Daftar ISI BMC

open all | close all

Ingin tanya sesuatu tentang pelajaran Biologi? Klik aja link di bawah ini!

Ingin berlangganan artikel BMC?

Daftarkan email Anda. Notifikasi akan dikirim setiap ada artikel baru.

Masukkan email Anda:

Delivered by FeedBurner

     Science Blogs Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Penyimpangan Semu Hukum Mendel

banner thera network Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Biologi Media Centre – Penyimpangan semu hukum Mendell merupakan bentuk persilangan yang menghasilkan rasio fenotif yang berbeda dengan dasar dihibrid menurut hukum Mendell. Meskipun tampak berbeda sebenarnya rasio fenotif yang diperoleh merupakan modifikasi dari penjumlahan rasio fenotif hukum Mendel semula.

Macam penyimpangan hukum Mendell adalah sebagai berikut:

  • Polimeri
  • Kriptomeri
  • Epistasis
  • Hipostasis
  • Komplementer
  • Interaksi alel

Saya membahas penyimpangan semu Mendel ini dengan teknik persilangan singkat. Jadi supaya tidak bingung baca dulu cara cepat menyelesaikan soal persilangan.

1.    Polimeri

Polimeri adalah suatu gejala dimana terdapat banyak gen bukan alel tetapi mempengaruhi karakter/sifat yang sama.

Polimeri memiliki ciri: makin banyak gen dominan, maka sifat karakternya makin kuat.

 Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Contoh: persilangan antara gandum berkulit merah dengan gandum berkulit putih

P    :    gandum berkulit merah    x         gandum berkulit putih

M1M1M2M2                             m1m1m2m2

F1     :   M1m1M2m2 = merah muda

P2    :    M1m1M2m2        x        M1m1M2m2

F2    :    9 M1- M2 –          : merah – merah tua sekali

3 M1- m2m2        : merah muda – merah tua

3 m1m1M2 –        : merah muda – merah tua

1 m1m1m2m2     : putih

  • Dari contoh di atas diketahui bahwa gen M1 dan M2 bukan alel, tetapi sama-sama berpengaruh terhadap warna merah gandum.
  • Semakin banyak gen dominan, maka semakin merah warna gandum.
    • 4M = merah tua sekali
    • 3M = merah tua
    • 2M = merah
    • M = merah muda
    • m = putih

Bila disamaratakan antara yang berwarna merah dengan yang berwarna putih, diperoleh:

Rasio fenotif F2 merah : putih = 15 : 1

2.     Kriptomeri

Kriptomeri merupakan suatu peristiwa dimana suatu faktor tidak tampak pengaruhnya bila berdiri sendiri, tetapi baru tampak pengaruhnya bila ada faktor lain yang menyertainya.

Kriptomeri memiliki ciri khas: ada karakter baru muncul bila ada 2 gen dominan bukan alel berada bersama

 Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Contoh: persilangan Linaria maroccana

A    : ada anthosianin            B    : protoplasma basa

a    : tak ada anthosianin       b    : protoplasma tidak basa

P    :      merah          x        putih

AAbb                      aaBB

F1    :    AaBb    = ungu     –     warna ungu muncul karena A dan B berada bersama

P2    :    AaBb        x        AaBb

F2    :    9 A-B-     : ungu

3 A-bb    : merah

3 aaB-    : putih

1 aabb   : putih

Rasio fenotif F2 ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4

3.    Epistasis-Hipostasis

Epistasis-hipostasis merupakan suatu peristiwa dimana suatu gen dominan menutupi pengaruh gen dominan lain yang bukan alelnya. Gen yang menutupi disebut epistasis, dan yang ditutupi disebut hipostasis.

 Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Contoh: persilangan antara jagung berkulit hitam dengan jagung berkulit kuning.

P    :    hitam        x        kuning

HHkk                 hhKK

F1    :    HhKh = hitam

Perhatikan bahwa H dan K berada bersama dan keduanya dominan. Tetapi karakter yang muncul adalah hitam. Ini berarti hitam epistasis (menutupi) terhadap kuning/kuning hipostasis (ditutupi) terhadap hitam

P2    :    HhKk        x        HhKk

F2     :    9 H-K-    : hitam

3 H-kk    : hitam

3 hhK-    : kuning

1 hhkk    : putih

Rasio fenotif F2 hitam : kuning : putih = 12 : 3 : 1

4.    Komplementer

Komplementer merupakan bentuk kerjasama dua gen dominan yang saling melengkapi untuk memunculkan suatu karakter.

 Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Contoh: perkawinan antara dua orang yang sama-sama bisu tuli

P    :    bisu tuli       x       bisu tuli

DDee                  ddEE

F1  :    DdEe = normal

D dan E berada bersama bekerjasama memunculkan karakter normal. Bila hanya memiliki salah satu gen dominan D atau E saja, karakter yang muncul adalah bisu tuli.

P2    :    DdEe    X    DdEe

F2     :    9 D-E-    : normal

3 D-uu    : bisu tuli

3 ppE-    : bisu tuli

1 ppuu   : bisu tuli

Rasio fenotif F2 normal : bisu tuli = 9 : 7

5.    Interaksi alel

Interaksi alel merupakan suatu peristiwa dimana muncul suatu karakter akibat interaksi antar gen dominan maupun antar gen resesif.

Contoh: mengenai pial/jengger pada ayam

 Penyimpangan Semu Hukum Mendel  Penyimpangan Semu Hukum Mendel

R-pp     : pial Ros/Gerigi              rrP- : pial Pea/Biji

 Penyimpangan Semu Hukum Mendel  Penyimpangan Semu Hukum Mendel

R-P-     : pial Walnut/Sumpel        rrpp : pial Single/Bilah

P    :    Ros        x        Pea

R-pp                rrP-

F1    :    RrPp     Walnut

P2    :    RrPp    X RrPp

F2    :    9 R-P-    : Walnut

3 R-pp    : Ros

3 rrP-     : Pea

1 rrpp     : Single

Pada contoh di atas ada 2 karakter baru muncul:

– Walnut : muncul karena interaksi 2 gen dominan

– Singel : muncul karena interaksi 2 gen resesif

Rasio fenotif F2 Walnut : Ros : Pea : Single = 9 : 3 : 3 : 1

Blogger Labels: hipostasis,interaksi alel,penyimpangan semu hukum Mendel,polimeri,kriptomeri,epistasis,komplementer

680 comments to Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>