Daftar ISI BMC

open all | close all

Ingin tanya sesuatu tentang pelajaran Biologi? Klik aja link di bawah ini!

Ingin berlangganan artikel BMC?

Daftarkan email Anda. Notifikasi akan dikirim setiap ada artikel baru.

Masukkan email Anda:

Delivered by FeedBurner

     Science Blogs Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Sistem Koordinasi : Hormon pada Hewan dan Feromon (3)

 

Artikel ini telah dibaca 29,185 kali

BMC – Seperti halnya pada manusia, hewan juga memiliki hormon. Pada hewan vertebrata mayoritas jenis hormonnya mirip dengan manusia. Sedangkan pada hewan tingkat rendah dan invertebrata sistem hormonnya berkaitan terutama dengan fungsi kelangsungan hidup, misalnya pertumbuhan, pendewasaan, dan reproduksi.

Hormon pada hewan Invertebrata

Pada Coelenterata (hewan berongga) misalnya Hydra, sel sarafnya menghasilkan bahan kimia yang disebut neuropeptida. Bahan tersebut merangsang terjadinya pertumbuhan, regenerasi, dan reproduksi.

image thumb5 Sistem Koordinasi : Hormon pada Hewan dan Feromon (3)

Pada Arthropoda dari kelompok insekta menghasilkan tiga macam hormon yaitu: hormon otak, hormon ekdison, dan hormon juvenil. Ketiga hormon tersebut berfungsi untuk  mengatur proses metamorfosis.

  • Hormon otak disekresikan oleh bagian otak, dan pelepasannya dipengaruhi oleh faktor makanan, cahaya, atau suhu. Selain itu hormon otak berfungsi memicu sekresi hormon ekdison dan hormon juvenil.
  • Hormon ekdison perfungsi pada pengaturan proses pergantian kulit (ekdisis).
  • Hormon juvenil berperan menghambat proses metamorfosis.

Ketiga hormon itulah yang berperan dalam proses metamorfosis dan pergantian kulit pada kelompok insekta

Sedangkan pada Crustaseae (udang, kepiting, dll) ada 2 faktor yang mempengaruhi pergantian kulit yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal diantaranya: adanya stressor/tekanan lingkungan, nutrisi, photoperiodisme dan temperatur. Sedangkan faktor internal terkait dengan produksi hormon ekdisteroid dan Molt Inhibiting Hormon (MIH)/hormon penghambat pergantian kulit.

Hormon pada hewan Vertebrata

image thumb6 Sistem Koordinasi : Hormon pada Hewan dan Feromon (3)Pada katak misalnya, metamorfosis dari berudu menjadi katak dewasa dipengaruhi  oleh hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar thiroid. Selain itu katak memiliki hormon yang disekresikan oleh epifisis dan hipofisis di otak, dan berperan dalam mengontrol perubahan warna kulit. Hormon epifisis menyebabkan kulit menjadi pucat, sedangkan hormon hipofisis menyebabkan warna kulit menjadi gelap.

Pada vertebrata lain sistem hormonnya mirip dengan manusia.

Feromon

Beberapa jenis hewan selain menghasilkan hormon juga menghasilkan bahan kimia yang disebut feromon. Bahan ini tidak berpengaruh langsung terhadap hewan yang bersangkutan, melainkan berpengaruh terhadap hewan lain yang satu spesies. Feromon yang disekresikan ini umumnya berfungsi menarik lawan jenis untuk melakukan proses reproduksi.

Misalnya saja pada ulat sutera (Bombyx mori), kupu betina mengeluarkan feromon untuk menarik ngengat jantan guna melakukan reproduksi.

Pada kupu-kupu jantan atau betina akan menyebarkan feromon saat mengepakkan sayapnya, sehingga feromon tersebar diudara dan mengundang lawan jenisnya untuk mendekat dan tertarik secara seksual. Feromon seks memiliki sifat yang spesifik untuk aktivitas reproduksi dimana jantan atau betina dari spesies yang lain tidak akan tertarik dan merespons terhadap feromon yang dikeluarkan betina atau jantan dari spesies yang berbeda.

Pada rayap, untuk dapat mendeteksi jalur yang dijelajahinya, individu rayap yang berada didepan mengeluarkan feromon penanda jejak (trail following pheromone) yang keluar dari kelenjar sternum (sternal gland di bagian bawah, belakang abdomen), yang dapat dideteksi oleh rayap yang berada di belakangnya. Sifat kimiawi feromon ini sangat erat hubungannya dengan bau makanannya sehingga rayap mampu mendeteksi obyek makanannya.

Jenis feromon lain adalah yang digunakan ngengat sebagai undangan untuk melakukan perkawinan. Ngengat gipsi betina dapat mempengaruhi ngengat jantan beberapa kilometer jauhnya dengan memproduksi feromon yang disebut “disparlur”. Karena ngengat jantan mampu mengindra beberapa ratus molekul dari betina yang mengeluarkan isyarat dalam hanya satu mililiter udara, disparlur tersebut efektif saat disebarkan di wilayah yang sangat besar sekalipun.

Feromon tampaknya juga memainkan peran penting dalam komunikasi serangga selain masalah reproduksi. Semut menggunakan feromon sebagai penjejak (tracer) untuk menunjukkan jalan kepada semut lain untuk menuju ke sumber makanan.

image thumb7 Sistem Koordinasi : Hormon pada Hewan dan Feromon (3)Contoh lain, bila lebah madu menyengat, ia tak hanya meninggalkan sengat pada kulit korbannya, tetapi juga meninggalkan feromon yang menyebabkan panggilan otomatis terhadap lebah madu lain untuk menyerang. Inilah yang menyebabkan kenapa lebah suka main keroyok.

Demikian pula, semut pekerja dari berbagai spesies mensekresi feromon sebagai zat tanda bahaya yang digunakan ketika terancam musuh. Feromon disebar di udara dan menyebabkan berkumpulnya semut pekerja yang lain. Bila semut-semut ini bertemu musuh, mereka juga akan mengubah jumlah produksi feromon sehingga isyaratnya bertambah atau berkurang, bergantung pada kondisi bahayanya: siaga 1, siaga 2, atau siaga 3. wlEmoticon winkingsmile Sistem Koordinasi : Hormon pada Hewan dan Feromon (3)

310 comments to Sistem Koordinasi : Hormon pada Hewan dan Feromon (3)

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>