Rakyat Indonesia ternyata baru anti koruptor. Belum anti korupsi

Posted on
Posting ini sudah dibaca 4376 kali

Rakyat Indonesia sesungguhnya belum anti korupsi, baru anti koruptor saja. Apa bedanya?

Anti korupsi dan anti koruptor sangatlah berbeda jauh. Jika seseorang anti korupsi, maka yang dibenci ialah tindakan korupsi sehingga dia akan merasa jijik pada dirinya sendiri apabila dia melakukan korupsi. Seseorang yang anti koruptor belum tentu anti korupsi karena yang dibenci adalah koruptornya.

Anti koruptor tidak suka jika orang lain mendapat untung dari korupsi, karena pada dasarnya dia ingin dia yang kecipratan, dan bukan orang lain. Anti koruptor tentunya jijik pada koruptor dan ingin koruptor diberantas, tapi tentunya bukan berarti dia tidak akan korupsi, sebenarnya mau, cuma belum dapat kesempatan saja.

anti korupsi

Jenis korupsi di Indonesia bukanlah insidentil, tapi sudah merupakan budaya. Seseorang yang bersih belum tentu anti korupsi karena bisa jadi dia bersih karena terbantu oleh lingkungan yang tidak mendukungnya untuk melakukan korupsi. Ketika si bersih berada di tempat yang basah, tentunya segala godaan mulai datang, akibatnya dia terseret arus mau ga mau untuk ikut bermain curang supaya posisinya aman.

Bagaimana kita tahu seseorang anti korupsi? Bisa dilihat dari kesehariannya, apakah dia jujur karena diawasi atau karena dia merasa dirinya buruk apabila dia tidak jujur. Apakah dia tidak mencontek karena takut ketangkap basah atau karena dia punya kesadaran mencontek itu salah sehingga ada atau tidak ada pengawas ujian, dia akan tetap jujur. Seseorang yang anti korupsi akan sadar kalau tindakan mencontek akan merampas hak anak yang belajar untuk dapat nilai lebih tinggi dari anak yang tidak belajar. Apakah dia taat peraturan lalu lintas hanya ketika ada polisi mengawasi atau tetap taat ketika kesempatan untuk tidak taat terbuka lebar. Seseorang yang anti korupsi akan tetap berpegang pada keyakinan hati nuraninya yang benar, meski ada kesempatan curang terbuka lebar dan tidak ada yang tahu.

Sering kita dengar ungkapan "tidak masalah mencontek asal gak ketahuan". Tidak masalah tidak jujur asal tidak ada yang tahu. Kemudian lagi ada ungkapan "curang-curang dikit tidak masalah lah" yang menggambarkan karakter rakyat kita yang permisif dan menganggap korupsi itu dapat diterima selama dilakukan dengan tidak membuat yang dicurangi sadar kalau dia sudah dicurangi. Ini adalah gejala masyarakat yang anti koruptor namun tidak anti korupsi. Mereka girang ketika koruptor ditangkap karena merasa dicurangi, namun tidak punya hati nurani untuk merasa bersalah apabila mereka mencurangi orang lain. Mereka merasa tidak masalah buang sampah sembarangan karena toh bukan tempat mereka ini, tapi tempatnya orang lain. Selama yang rugi orang lain dan saya diuntungkan, mengapa harus merasa bersalah.

Bagaimana mengubah ini semua?

Tidak lain harus lewat pendidikan karakter sejak dini, terutama oleh orang tua, bukan hanya lewat kata-kata tapi juga lewat contoh perilaku.

Mengapa orang tua?

Ya, karena anak akan meniru sebagian besar perilaku orang tua dan menyerap nilai dan norma dari mereka. Orang tua yang baik akan mengajarkan anaknya untuk tidak buang sampah sembarang karena akan merugikan orang lain, kebanggaan karena mengerjakan soal ujian dengan jujur, dan perlunya mentaati peraturan lalu lintas ada atau tidak ada polisi lalu lintas yang mengawasi. Ketika orang tua misalnya menyogok pihak sekolah agar anaknya diterima atau dinaikan, jangan heran kalau anaknya nanti besar jadi koruptor. Pemberantasan korupsi harus dimulai di rumah tangga, bukan hanya lewat kata-kata tapi juga lewat perilaku.

Orang yang pro KPK belum tentu anti korupsi lho. Bisa jadi dia pro KPK karena dia anti koruptor. Kalau dia anti korupsi, dia akan ikut membantu pemberantasan korupsi, dimulai dari rumah tangganya sendiri, dimulai dari anak-anaknya sendiri. Terserah Anda sekarang, mau tetap anti koruptor atau mulai komitmen untuk anti korupsi.

Bagiamana pendapat Anda?

Source : jed.revolutia.info (dengan editing)

Gravatar Image
Dosso Sang Isahi adalah mantan guru / tentor pelajaran Biologi SMA. Ia juga seorang blogger aktif yang telah banyak menulis berbagai tutorial tentang blogging, komputer, dan teknologi. Karena kesibukannya mengurusi berbagai bisnis online, ia telah beristirahat dari kegiatan mengajar. Namun karena kecintaannya terhadap pelajaran Biologi, ia masih menyempatkan diri mengelola Biologi Media Centre ini.