Kurikulum 2013 : Kurikulum bodoh ciptaan bangsa bodoh!

Posted on
Posting ini sudah dibaca 7438 kali

Pemerintah Indonesia selalu membanggakan hasil gemilang Ujian Nasional dimana hampir 100% target kelulusan berhasil dicapai. Namun hanya sedikit pihak yang merasa hal ini adalah sebuah prestasi. Mengapa? Karena sudah rahasia umum kalau penyelenggaraan UN penuh kecurangan. Pihak Kemendikbud menekan Dinas Dikbud Daerah agar tingkat kelulusan 100%. Lalu dinas menekan kepala sekolah, kepala sekolah akhirnya menekan para guru. Akhirnya kunci jawaban beredar luas. Pemerintah selalu berdalih kalau Ujian Nasional perlu untuk standardisasi output pendidikan nasional serta untuk membuat siswa-siswi kita belajar. Namun, sebuah standar tentunya tidak valid ketika dilakukan dengan kecurangan masif.

kurikulum 2013Sebuah tulisan blog berjudul “Indonesian Kids Don’t Know How Stupid They Are” dituliskan kalau hasil PISA test anak Indonesia usia 15 tahun ternyata tertinggal jauh dari anak-anak di negara lain dalam kemampuan matematika, IPA, dan membaca. Hal ini seharusnya membuat kita semua khawatir karena anak-anak muda adalah masa depan bangsa. Bagaimana mereka bisa bersaing dengan negara lain kalau kemampuan standar mereka tertinggal jauh? Hasil UN yang fantastis sepertinya cuma make up yang dipakai pemerintah untuk berdalih kalau mereka telah berhasil mencerdaskan anak bangsa, padahal sebenarnya gagal total ! Mendikbud M. Nuh pun langsung berdalih menanggapi hasil PISA test bahwa Kurikulum 2013 adalah obatnya.

Apakah benar Kurikulum 2013 akan bisa membenahi dan meningkatkan kemampuan anak bangsa?

Sudah berulang kali pemerintah mengganti kurikulum seiring dengan perubahan zaman. Namun, seperti yang bisa dilihat dalam kurikulum sekolah dasar 2013, Kemendikbud ingin fokus pada mata pelajaran Agama, PPKn, dan Bahasa Indonesia. Sementara pelajaran seperti Bahasa Inggris dan Komputer dijadikan sebagai ekstrakurikular pilihan dengan Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib.

Pertanyaannya: Apakah kurikulum model ini yang dibutuhkan generasi penerus bangsa 15 tahun lagi ketika mereka bersaing di era globalisasi? Jangan-jangan kurikulum 2013 cuma mampu mempersiapkan generasi penerus untuk penerimaan CPNS ! Tidak lebih dari itu !

Coba bayangkan pada tahun 2030, bagaimanakah kondisi dunia pada waktu itu nanti. Satu hal yang pasti ialah masyarakat semakin global, dan kemajuan teknologi semakin pesat. Di masa depan, persaingan sumber daya manusia itu bukan hanya di level antar kota, tapi sudah antar negara. Mampukah SDM kita tahun 2030 bersaing dengan SDM-SDM dari negara-negara maju lainnya? Itu adalah pertanyaan besar yang harus direnungkan bersama kalau tidak ingin generasi cuma punya impian jadi PNS doank.

Ada 2 skill utama yang dibutuhkan generasi masa depan pada persaingan global yaitu kemampuan bahasa asing (terutama Bahasa Inggris) dan kemampuan mengembangkan teknologi (bukan sekedar pengguna). Pekerjaan yang banyak dibutuhkan di masa depan ialah computer programmer dan segala sesuatu yang berkaitan dengan komputer, karena semua pengembangan teknologi bertumpu pada pengembangan aplikasi teknologi. Ketika ada gerakan di Amerika Serikat untuk memasukan coding (teknik pemograman) sebagai mata pelajaran SD, di Indonesia mata pelajaran komputer malah dianggap tidak penting dan dijadikan sekedar ekstrakurikuler pilihan. Sungguh bodoh !

Simak video berikut untuk mengerti betapa pentingnya pelajaran coding di masa depan.

Video tentang pentingnya teknik coding (pemrograman)

Lebih menyedihkan lagi bahwa seorang pakar pendidikan seperti Arief Rahman membuat pernyataan kalau pelajaran Bahasa Inggris dan Ilmu Komputer tidak penting.

“Begini, kurikulum itu jangan berisi dengan mata pelajaran yang tidak ada gunanya. Sebab hal itu malah memberatkan anak-anak,” kata Arif di Jakarta, Kamis, (12/12). Anak-anak di daerah terpencil, pelosok, bahkan di hutan tidak membutuhkan bahasa Inggris. “Jadi tidak ada gunanya jika bahasa Inggris dijadikan mata pelajaran wajib bagi anak-anak di pelosok tersebut, makanya memang tidak perlu dimasukkan ke kurikulum,” ujar Arif. Bahasa Inggris dan TIK (Teknologi & Ilmu Komunikasi), terang Arif, tidak dibutuhkan secara nasional. Jadi sebaiknya bahasa Inggris dan TIK dijadikan muatan lokal atau pelajaran ekstra kulikuler saja. Posisi bahasa Inggris di Indonesia itu, kata Arif, berbeda dengan posisi bahasa Inggris di Malaysia, India, dan Singapura. Bagi negara-negara tersebut bahasa Inggris merupakan bahasa kedua, kalau di Indonesia tidak. “SD di Cakung belum tentu butuh bahasa Inggris, berbeda dengan SD di Menteng yang mungkin anak-anaknya sering berinteraksi dengan warga asing, makanya butuh bahasa Inggris. Bahasa Inggris itu cukup diajarkan di SMP dan SMA untuk mengantarkan mereka agar bisa membaca buku bahasa Inggris saat kuliah,” terangnya.

Mungkin Pak Arief sudah pikun di usianya yang sudah 71 tahun, membuatnya tidak bisa berpikir tentang masa depan, dan hanya berkaca pada masa lalu yang diketahuinya.

Bahasa Inggris hanya diperlukan untuk membaca textbook waktu kuliah, itu memang benar 15 tahun lalu. Namun sejak berkembangnya internet dan mobile gadget, siapapun bisa berkomunikasi dengan orang lain dari negara lain manapun dengan mudah secara online. Internet telah mengubah dunia, membuat persahabatan, bisnis, komunikasi, dan pendidikan dapat dilakukan dalam skala global. Jadi, Bahasa Inggris adalah bahasa wajib di masa depan, bahkan untuk yang tinggal di pelosok sekalipun, karena komunikasi sudah tidak lagi mengenal jarak.

Sekarang bayangkan tahun 2030 nanti dimana SDM negara lain banyak sekali jago coding dan mampu menciptakan banyak teknologi canggih berbasis komputer. Sementara itu SDM di Indonesia hanya terlatih dalam agama dan pramuka. Apa gunanya dan apa jadinya nanti?

Inilah model pendidikan bodoh dari bangsa bodoh yang mengaku bangsa besar !

Bagaimana komentar Anda?

Source : jed.revolutia (dengan editing)

Gravatar Image
Dosso Sang Isahi adalah mantan guru / tentor pelajaran Biologi SMA. Ia juga seorang blogger aktif yang telah banyak menulis berbagai tutorial tentang blogging, komputer, dan teknologi. Karena kesibukannya mengurusi berbagai bisnis online, ia telah beristirahat dari kegiatan mengajar. Namun karena kecintaannya terhadap pelajaran Biologi, ia masih menyempatkan diri mengelola Biologi Media Centre ini.