BELAJAR DARI 10 PRINSIP TAIICHI OHNO SANG FATHER OF THE TOYOTA PRODUCTION SYSTEM

dr andini

Sudah dibaca 116 kali

Selalu menjadi pertanyaan bagaimana Toyota mencapai posisi leader produsen mobil di dunia. Rupanya itu tidak lepas dari tangan dingin seorang Taiichi Ohno. Dia bukan hanya simbol semata tetapi merupakan seorang Guru kebangkitan manufaktur Jepang setelah perang dunia kedua.

Taiichi Ohno Yoyota

Taiichi Ohno – Pencipta TPS (Toyota Production System) yang terkenal hingga sekarang

Menjelang akhir perang dunia kedua, produktivitas Toyota Motor Company jauh di bawah industri besar lainnya seperti Detroit Industry (Ford), yaitu sekitar 9:1, artinya produktivitas satu pekerja di Amerika setara dengan 9 pekerja Jepang.

Taiichi Ohno menemukan bahwa inefisiensi adalah alasan utama mengapa produktivitas Toyota lebih rendah dari produsen otomotif lainnya. Dia pun berencana untuk meniadakan inefisiensi pada bagian proses produksi.

Pada tahun 1956, Taiichi Ohno pergi ke AS mengunjungi “The Big Three” (GM, Ford, dan Chrysler) untuk mempelajari teknologi industri otomotif yang telah mapan.

Menariknya, ide tentang Toyota Production System (TPS) yang belakangan ia ciptakan, bukan berasal dari hasil pengamatannya di tiga produsen mobil terbesar tersebut.

Taiichi Ohno justru mendapatkan inspirasi dari supermarket. Dia terkesan pada konsumen yang bebas memilih barang dan jumlah yang mereka inginkan.

Di supermarket ini disimpan stok dalam jumlah terbatas, sesuai debit penjualan barang. Taiichi Ohno kemudian memakai prinsip itu untuk jalur produksi di pabriknya. Ia yang memperkenalkan konsep “7 Kemubaziran” atau Nanatsu No Muda.

Membeli barang yang tepat, dengan jumlah akurat, dan harga yang sesuai menjadi inti Toyota Production System (TPS) yang dia kembangkan hingga pertengahan 1970-an.

Taiichi Ohno

Salah satu tahap produksi Toyota di Jepang

Berikut adalah 10 prinsip dalam bekerja yang diajarkan oleh Taiichi Ohno.

1. Kamu adalah biaya.

Dalam konteks perusahaan, setiap orang adalah sumber biaya.

Ia digaji, diberi ruang kerja, dan berbagai fasilitas untuk kerja. Itu semua berbiaya.

Setiap orang bertanggung jawab atas biaya yang timbul. Logisnya, kita bekerja menghasilkan sesuatu, jauh melebihi dari biaya yang dikeluarkan untuk kita. Bila tidak demikian maka kita adalah beban perusahaan. Hal-hal yang sifatnya beban, harus dibuang.

2. Selalulah katakan,”Saya bisa.”

Selalulah mencoba. Tidak ada hal yang kita putuskan tidak bisa, sebelum kita mencobanya. Saya coba, dan saya bisa. Saya coba banyak hal, membuat saya bisa banyak hal.

Tidak ada orang yang serba bisa. Kita tidak serba bisa. Tapi kita bisa mencoba, dan menjadi bisa.

3. Tempat kerja adalah guru.

Hanya di tempat kerjalah kamu bisa menemukan jawaban. Dalam bahasa Jepang ini disebut genba shugi.

Keahlian diperoleh dari lapangan, tempat kita bekerja, bukan melalui sederet buku teori. Juga bukan dari hasil perenungan di balik meja.

Arti sebaliknya adalah, belajarlah dari hal-hal yang kamu kerjakan. Bukan sekedar melakukannya dengan pikiran kosong.

4. Lakukan segala sesuatu dengan segera.

Memulai sesuatu sekarang adalah satu-satunya cara untuk menang. Jangan biasakan menunda, membuat pekerjaan menumpuk, sehingga kita tak sanggup lagi mengatasinya.

Jangan tunggu hingga terdesak baru mengerjakan.

Jangan baru memulai saat semangat kita sudah mulai luntur.

5. Sekali mulai, lakukan dengan gigih sampai tujuan tercapai.

Tidak ada tujuan yang tidak bisa dicapai. Tak ada mimpi yang bisa diraih. Tak ada jalan buntu.

Semua yang kita hadapi hanyalah tembok yang bisa kita panjati, lompati, atau kalau perlu kita hancurkan.

Tembok di depan kita hanya akan jadi jalan buntu kalau kita memandangnya sebagai jalan buntu.

6. Jelaskan hal-hal sulit dengan cara yang mudah.

Puncak pemahaman seseorang adalah saat ia mampu menjelaskan hal sulit dengan cara yang mudah dipahami orang.

Berempatilah pada orang yang belum paham. Itu hanya bisa dimiliki oleh orang yang punya kemauan kuat untuk berbagi.

7. Kemubaziran itu selalu tersembunyi.

Jangan sembunyikan. Jadikan ia selalu terlihat, sehingga selalu disadari sebagai masalah.

Biasakan untuk berpikir, mencari sumber kemubaziran, dan memunculkannya ke permukaan.

8. Gerakan sia-sia sama halnya dengan memperpendek umur.

Hidup ini terbatas waktunya. Hidup kita dinilai dari berapa banyak hal bermanfaat yang kita lakukan selama hidup. Bila banyak amal sia-sia, amal bermanfaat kita hanya sedikit.

Mungkin kita akan kalah dari orang yang pendek umur tapi banyak amal bermanfaat, padahal umur kita lebih panjang dari dia.

9. Perbaiki yang sudah diperbaiki, untuk jadi lebih baik lagi.

Tidak ada kesempurnaan dalam hidup. Selalu ada ruang dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas. Tidak boleh ada kata berhenti atau selesai untuk perbaikan.

10. Kebijaksanaan ada pada setiap orang.

Yang membedakannya adalah yang mempraktekkannya.

Kebijaksanaan bukan bawaan lahir. Ia dihasilkan dari sikap yang terus menerus diasah dalam interksi kita dengan orang lain.

Orang bijak tidak hidup di gua yang menghasilkan kebijakan dari perenungan. Orang bijak hidup bersama manusia lain, mengasah kebijakannya melalui interaksi dengan orang lain.

Taiichi Ohno lahir di Dalin, Cina, tahun 1912.

Setelah lulus kuliah di Nagoya, ia bergabung dengan perusahaan milik keluarga Toyoda, yang merupakan teman ayahnya. Perusahaan itu membuat mesin pemintal benang.

Ya, bisnis pertama Toyota yang dirintis oleh Sakichi Toyoda adalah bisnis pembuatan mesin pintal dan tenun, bukan otomotif. Toyota baru mulai membuat mobil tahun 1938. Hingga saat ini Toyota bahkan masih membuat mesin tenun, dan masih merupakan pembuat mesin nomor satu di dunia.

Tahun 1948 Taiichi Ohno pindah ke divisi otomotif. Dia kemudian menghasilkan gagasan tentang lean manufacturing yang menjadi pilar produksi mobil Toyota hingga sekarang.

“We let the flow manage the process, NOT the management manage the processes,” (biarkan proses mengalir, bukan manajemen yang mengaturnya) menjadi prinsip dalam sistem produksi Toyota.

Toyota Production System (TPS) yang berkembang secara evolusioner di tengah segala kekurangan dan kendala pada dasawarsa awal, membuat sistem itu meresap kuat ke dalam budaya perusahaan.

Dengan kata lain, di Toyota, TPS bukan lagi sekadar sistem produksi, melainkan falsafah perusahaan.

Bahkan sistem Lean Thinking yang merupakan inti TPS adalah yang paling banyak diimplementasi oleh berbagai industri, bukan hanya produsen otomotif.

Suatu peninggalan besar dari Taiichi Ohno sebelum akhirnya beliau meninggal pada 28 Mei 1990 dalam usia 78 tahun.

Tags: Taiichi Ohno toyota production system

Related Post "BELAJAR DARI 10 PRINSIP TAIICHI OHNO SANG FATHER OF THE TOYOTA PRODUCTION SYSTEM"

Mengubah sel kulit menjadi sel saraf
Sebuah terobosan penelitian telah membuktikan kemungkinan untuk
Elysia chlorotica : Siput yang bisa melakukan fotosintesis
Selama ini kita telah memahami bahwa organisme
Mitokondria Ternyata Suka Berulah
Kamu tahu miokondria kan? Itu, organel sel